Kamis, 16 Juni 2011

Tawassul

 Oleh: Habib Mundzir Almusawa

Saudara saudaraku masih banyak yang memohon penjelasan mengenai tawassul, wahai saudaraku, Allah swt sudah memerintah kita melakukan tawassul. Tawassul adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pada Allah swt, Allah swt mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk-Nya, yaitu Nabi Muhammad Saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in. Demikian berpuluh – puluh perantara sampai pada guru kita, yang mengajarkan kita islam, shalat, puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw, sampailah kepada Allah swt.

Allah swt berfirman : “Hai orang – orang yang beriman, bertakwalah atau patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).

Berkata Imam Ibn katsir menafsirkan ayat ini :

والوسيلة: هي التي يتوصل بها إلى تحصيل المقصود، والوسيلة أيضًا: علم على أعلى منزلة في الجنة، وهي منزلة رسول الله صلى الله عليه وسلم وداره في الجنة، وهي أقرب أمكنة الجنة إلى العرش، وقد ثبت في صحيح البخاري، من طريق محمد بن المُنكَدِر، عن جابر بن عبد الله قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "من قال حين يسمع النداء: اللهم رب هذه الدعوة التامة، والصلاة القائمة، آت محمدًا الوسيلة والفضيلة، وابعثه مقامًا محمودا الذي وعدته، إلا حَلَّتْ له الشفاعة يوم القيامة".
حديث آخر في صحيح مسلم: من حديث كعب عن علقمة، عن عبد الرحمن بن جُبير، عن عبد الله بن عمرو بن العاص أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول: "إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول، ثم صلُّوا عَليّ، فإنه من صلى عَليّ صلاة صلى الله عليه بها عشرًا، ثم سلوا الله لي الوسيلة، فإنها منزلة في الجنة، لا تنبغي إلا لعبد من عباد الله، وأرجو أن أكون أنا هو، فمن سأل لي الوسيلة حَلًّتْ عليه الشفاعة." (1)
حديث آخر: قال الإمام أحمد: حدثنا عبد الرزاق، أخبرنا سفيان، عن لَيْث، عن كعب، عن أبي هريرة؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "إذا صليتم عَليّ فَسَلُوا لي الوسيلة". قيل: يا رسول الله، وما الوسيلة؟ قال: "أعْلَى درجة في الجنة، لا ينالها إلا رَجُلٌ واحد (2) وأرجو أن أكون أنا هو".

Wasilah adalah sesuatu yg menjadi perantara untuk mendapatkan tujuan, dan merupakan perantara pula ilmu tentang setinggi tinggi derajat, ia adalah derajat mulia Rasulullah saw di Istana beliau saw di sorga. Dan itu adalah tempat terdekat di sorga ke Arsy, dan telah dikuatkan pd shahih Bukhari dari jalan riwayat Muhammad bin Al Munkadir, dari Jabir bin Abdillah ra, sabda Rasulullah saw : Barangsiapa yg berdoa ketika mendengar seruan (adzan) :Wahai Alla Tuhan Pemilik Dakwah ini Yang Maha Sempurna, dan Shalat Yang didirikan, berilah Muhammad perantara dan anugerah, dan bangkitkanlah untuk beliau saw derajat yg terpuji yg telah Kau Janjikan pada beliau saw, maka telah halal syafaat dihari kiamat”.

Hadits lainnya pada Shahih Muslim, dari hadits Ka;ab dari Alqamah, dari Abdurrahman bin Jubair, dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, sungguh ia mendengar Nabi saw bersabda : Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkan seperti ucapan mereka, lalu bershalawatlah padaku, maka sungguh barangsiapa yg bershalawat padaku sekali maka Allah melimpahkan shalawat padanya 10x, lalu mohonlah untukku wasiilah (perantara), maka sungguh ia merupakan tempat di sorga, tiada diberikan pada siapapun kecuali satu dari hamba Allah, dan aku berharap agar akulah yg menjadi orang itu, maka barangsiapa yg memohonkan untukku perantara, halal untuknya syafaat.

Dan hadits lainnya berkata Imam Ahmad, diucapkan pada kami oleh Abdurrazzak, dikabarkan pada kami dari sofyan, dari laits, dari Ka;ab, dari Abu Hurairah ra : Sungguh Rasulullah saw bersabda : Jika kalian shalat maka mohonkan untukku wasiilah, mereka bertanya : Wahai Rasulullah, (saw), wasiilah itu apakah?, Rasul saw bersabda : Derajat tertinggi di sorga, tiada yg mendapatkannya kecuali satu orang, dan aku berharap akulah orang itu
Selesai ucapan Imam ibn Katsir. (Tafsir Imam Ibn Katsir pd Al Maidah 35)
                                         
Ayat ini jelas menganjurkan kita untuk mengambil perantara antara kita dengan Allah, dan Rasul saw adalah sebaik baik perantara, dan Hadits hadits ini jelas bahwa Rasul saw menunjukkan bahwa beliau saw tak melarang tawassul pada beliau saw, bahkan orang yang mendoakan hak tawassul untuk beliau saw sudah dijanjikan syafaat beliau saw.

Tawassul ini boleh kepada amal shalih, misalnya doa : “Wahai Allah, demi amal perbuatanku yang saat itu kabulkanlah doaku”, sebagaimana telah teriwayatkan dalam Shahih Bukhari dalam hadits yang panjang menceritakan tiga orang yang terperangkap di goa dan masing – masing bertawassul pada amal shalihnya, Allah swt membuka sepertiga celah goa tempat mereka terperangkap berkat tawassul orang pertama pada amal shalihnya, namun mereka belum bisa keluar dg celah itu, maka orang kedua bertawassul pada amal shalih yg pernah diperbuatnya, maka celah terbuka 2/3 dan belum bisa membuat mereka keluar dari goa, maka orang ketiga bertawassul pula pada amal baiknya, maka terbukalah celah goa keseluruhannya.

Namun dari riwayat ini bisa difahami bahwa tawassul pada amal shalih sendiri tidak bisa menyelamatkan dirinya, namun justru sebab dua orang lainnya maka mereka semua bisa selamat..

Jelas sudah bertawassul pada orang lain lebih bisa menyelamatkan daripada tawassul pada amal sendiri yg belum tentu diterima, namun tawassul pada orang shalihh yg sudah masyhur kebaikan dan banyaknya amal ibadahnya, akan lebih mudah dikabulkan Allah swt, lebih lagi tawassul pada Rasulullah saw.

Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yang diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra pada riwayat shahih Bukhari :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ

Dari Anas bin Malik ra sungguh Umar bin Khattab ra ketika sedang musim kering ia memohon turunnya hujan dengan perantara Abbas bin Abdulmuttalib ra, seraya berdoa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami (Muhammad saw) agar kau turunkan hujan lalu Kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yang melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dg derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.954)

Selasa, 14 Juni 2011

Nadzar Kepada Awliya'

Bagaimana hukumnya menyembelih hewan yang di maksudkan bagi para wali?
Jawab: Jika seseorang melakukan itu atas nama wali, atau agar dia dapat mendekatkan diri kepadanya, dia seperti orang yang menyembelih untuk selain Allah. Dengan demikian, yang disembelih adalah bangkai, dan yang menyembelih berdosa.
Perbuatan tersebut tidak menjadikan kufur bagi pelakunya, "kecuali" jika ditujukan sebagai pengagungan dan ibadah, sebagaimana jika dia sujud kepadanya untuk keperluan itu. Adapun jika penyembelihan dimaksudkan untuk Allah SWT dandagingnya di sedekahkan kepada kaum faqir dan miskin, dengan niat pahala sedekah itu dihadiahkan kepada ruh seorang wali, ini boleh, bahkan dianjurkan, sesuai kesepakatan para ulama terkemuka, karena ini termasuk sedekah atas nama mayit dan berbuat baik kepadanya, yang dianjurkan dan ditekankan syari'at kepada kita.

Bagaimana pula hukum bernadzar kepada para wali?
Jawab: Nadzar bagi para wali dan ulama dibolehkan dan dibenarkan, jika yang dimaksudkan oleh orang yang bernadzar adalah penduduk setempat yang terdiri dari anak-anak mereka atau kaum fakir yang berada di kubur mereka, atau dimaksudkannya untuk membangun makam mereka, karena ini dapat menghidupkan ziarah kubur, yang dianjurkan syari'at. Demikian pula dibenarkan, jika orang yang bernadzar menyatakan secara mutlak dan nadzarnya dialihkan untuk kemaslahatan tersebut diatas.
Berbeda dengan jika dimaksudkan untuk mengagungkan kuburan dan mendekatkan diri kepada penghuni yang ada di dalamnya, atau nadzar dimaksudkan untuk diri si mayit, ini tidak dibenarkan dan dilarang.

Apa yang dimaksud oleh kaum muslimin dengan "sembelihan mereka bagi orang-orang yang sudah wafat"?
Jawab: Setiap muslim yang menyembelih hewan untuk nabi atau wali, atau bernadzar sesuatu untuknya, itu tidak dimaksudkannya selain untuk bersedekah atas namanya dan memberikan pahalanya kepadanya. Dengan demikian, itu termasuk dalam kategori hadiah orang hidup bagi orang mati, yang diperintahkan berdasarkan syari'at. Ahlussunah dan ulama umat sepakat bahwa sedekah orang-orang yang hidup bermanfaat bagi orang-orang yang mati, serta sampai kepada mereka.

Apa dalil yang menyatakan bahwa pahala sedekah sampai kepada orang yang mati?
Jawab: Dalilnya adalah sejumlah hadits shahih. Diantaranya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah ra, seorang bertanya kepada Nabi SAW, "Ayahku wafat, namun ia belum sempat menyampaikan wasiat. Apakah berguna bila aku bersedekah atas namanya?" Beliau menjawab, "Iya." [Disampaiakan oleh Muslim No. 1630, dan lainnya dari hadits Abu Hurairah ra].

Dari Sa'ad ra, ia bertanya kepada Nabi SAW, "Wahai Nabiyullah, ibuku telah terluputkan (wafat tanpa sempat berwasiat), dan aku mengetahui bahwa, seandainya ia masih hidup, ia akan bersedekah. Apakah, jika aku bersedekah atas namanya, itu berguna baginya?" Beliau menjawab, "Iya." [Terdapat dalam ash-Shahihan].

Dalam riwayat lain dinyatakan bahwasannya ia bertanya kepada Nabi SAW, "Sedekah apa yang paling berguna, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Air". Lalu dia menggali sumur dan berkata, "Ini untuk Ummu Sa'ad." [Disampaiakan oleh Abu Dawud No.1681, an-Nasai No.3664, dan lainnya].

Dinyatakan dalam sebuah riwayat, Nabi SAW diberi seekor domba pada saat 'Idul Adha. Beliaupun menyembelihnya dan bersabda, "Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini atas namaku dan orang yang tidak berqurban di antara umatku." [Disampaikan oleh Abu Dawud No.2810, at-Tirmidzi No.1521, Ahmad 3:356 No.14880, dan lainnya, dari hadits Jabir bin Abdillah ra].

Ini merupakan dalil, bahwa manfaat akan didapat oleh orang-orang yang hidup dan orang-orang yang wafat di antara umat beliau, lantaran qurban beliau SAW. Jika tidak demikian, (perbuatan Rasulullah SAW) itu tidak ada gunanya.

Sumber: Seribu Satu Jawaban Masalah-Masalah Aqidah Islam
Terjemah dari Kitab Ajwibah Algholiyah, Karya: Al-Allamah Al-Faqih Alhabib Zein bin Sumaith

---ooo---

Senin, 13 Juni 2011

Amr Ibn Luhayy

Pembuatan berhala pada awalnya bertujuan untuk mengenang tokoh. Lalu berlanjut menjadi pemujaan dan penyembahan. Di kisahkan, Amr ibn Luhayy menaklukan Makkah, mengusir Jurhum meninggalkan kota, dan mengambil alih mandat pengelolaan Ka'bah.

Ia, atau Rabi'ah ibn Amr Ash-Shabbah Haritsah ibn Tsa'labah ibn Amru' al-Qays ibn Mazin ibn al-Azd, adalah bapak suku Khuza'ah. Ia seorang kahin atau pendeta. Ibunya adalah Fihayrah, putri al-Harits, tetapi sumber lain menyatakan ia adalah putri al-Harits ibn Murad al-Jurhumi.

Amr mengikuti peramalnya yang bernama Abu Tsumamah untuk menemukan berhala-berhala zaman dahulu di pantai Juddah. Kemudian Amr menggali berhala-berhala keluar dari pasir, membawanya ke Tihamah, dan menegakkannya di sana. Saat masa haji tiba, ia mengundang semua bangsa Arab untuk menyembah berhala-berhala tersebut.

Awf ibn Udzrah ibn Zayd al-Lat ibn Rufaydah ibn Tsawr ibn Kalb ibn Wabarah ibn Taghlih ibn Hulwan ibn Imran ibn al-Haf ibn Qudha'ah menyambut panggilannya. Karenanya, Amr memberinya Wadd, yang dibawa Awf ke Wadi al-Qurra, dan ia menegakkannya di Daumatul Jandal, Al-Jawf, di Saudi Utara sekarang.

Keberhalaan Wadd menyebar ke selatan, yaitu Yaman. Ma'in sebuah kerajaan kuno di Arab Selatan, menjadikan Wadd ("cinta") sebagai Tuhan Nasional-nya. Sedang di tempat asalnya di Daumatul Jandal, Wadd adalah "dewa bulan".

Kerajaan Ma'in berjaya selama abad ke-4 sampai ke-2 SM di utara Yaman sekarang. Bangsa Ma'in adalah komunitas pedagang yang damai dan pemerintahnya menunjukkan pola-pola demokratis negara kota.
Ma'in jatuh dalam kekuasaan bangsa Saba' , yang terkenal dengan ratunya Bilqis.

Wadd adalah nama lain dari Ilumquh. Ada kebiasaan mengunjungi Ilumquh (haji) dengan ritus menyucikan diri (wudhu), qurban, dan kepatuhan atas pandangan tertentu. Mereka mencari bimbingan keramat dari tuhan ini, yang kemudian dituliskan dan disimpan di kuilnya untuk alasan keamanan.

Awf juga menamai anaknya "Abd Wadd", ia adalah yang pertama bernama demikian. Kemudian bangsa Arab menamai anak-anak mereka "Wadd". Awf menjadikan anaknya Amir, yang di panggil "Amir al-Ajdar", pemegang mandat pengelolaan Ka'bah. Keturunannya terus memegang posisi itu hingga datang-nya Islam.

Setelah berhala Wadd, al-Qur'an menyebutkan berhala Suwa'. Tidak jelas gambaran tentang Suwa', namun diketahui bahwa suku Hudzail mengadopsi Suwa' menjadi tuhannya dan menempatkannya di Ruhat di daerah Yanbu, salah satu desa di Madinah. Pemegang mandat pengelolaan kuilnya adalah Bani Lihyan. Hanya anehnya, berhala ini tidak pernah disebut dalam puisi-puisi suku Hudzail, tetapi justru pernah muncul dari puisi salah satu penyair Yaman.

Kau lihat
mereka berkerumun di sekitar rajanya
sebagaimana suku Hudzail
mengelilingi Suwa'nya
dan mengisi istananya dengan qurban
yang diambil dari gembalaan terpilih

Suku Madzhij juga menyambut panggilan Amr ibn Luhayy. Karenanya, ia memberikan berhala Yaghuts kepada An'am ibn Amr al-Muradi, kepala suku, untuk menjaganya. Yaghuts ditempatkan di sebuah bukit di Yaman yang bernama Madzhij, ia disembah oleh suku Madzhij dan suku-suku di sekitarnya.

Seorang penyair, An-Nabighah Adz-Dzubyani, penyembah Yaghuts, bersyair:
Semoga Wadd memelihara
dan memberkatimu
sebab bagi kami
dilarang bersama wanita
beroman dan bermesra
Demikian keimanan kami
telah menegaskan

Suku Madhzij menganggap berhala Wadd sebagai feminim. Penyair lain bersyair:
Yaghuts membimbing kami
menuju Murad
Dan kami taklukan mereka
sebelum pagi

Suku Hamadan juga menyambut panggilan Amr, dan ia berikan berhala Ya'uq kepada Malik ibn Martsad ibn Jusyam ibn Rasyid ibn Jusyam ibn Khayran ibn Nawf ibn Hamdin, kepala suku. Ia ditempatkan di suatu pemukiman yang bernama Khaywan, berjarak dua malam berjalan kaki menuju Makkah. Ia disembah oleh suku Khaywin (Hamdan) dan suku-suku Yaman sekitarnya.

Berhala ini tidak menjadi nama kebanggaan suku penyembahnya, jadi tidak ada anak Hamdan atau suku Arab lainnya yang diberi nama Abdul Ya'uq. Nama Ya'uq juga tidak disebut-sebut dalam puisi mereka. Ini mungkin karena tempat mereka berdekatan dengan Shan'a, ibu kota Yaman. Akibatnya mereka berbaur dengan suku Himyar dan memeluk agama Yahudi. Saat itu Dzu Nawas Yusuf As'ar Yats'ar, raja Himyar Yaman, pada 523 M, membantai kaum-kaum Nashrani di Najran, perbatasan utara Yaman. Kaum Nashrani itu beranggapan, Isa Alaihissalam adalah Tuhan, meski mengambil wujud manusia.

Pembantaian ini membuat Negus di Ethiopia menyerbu Yaman. Ia mengalahkan dan membunuh Dzu-Nawas dan menunjuk seorang Nasrani sejak lahir, Abrahah, mantan jendral Ethiopia, menjadi gubernur Yaman. Abrahah termasyhur dalam sejarah Islam sebagai penyerang Ka'bah, yang kemudian ia dan pasukannya dihancurkan sepasukan burung [QS. al-Fiil (105): 1-5].

Suku Himyar juga menyambut panggilan Amr. Maka ia mengirimkan berhala Nasr kepada seorang lelaki dari Dzu-Ru'ayn bernama Ma'di-karib. Ma'di-karib mendirikannya di sebuah tempat di negeri Saba' bernama Balkha'. Berhala ini di sembah suku Himyar dan suku-suku sekitarnya. Mereka terus menyembahnya sampai Dzu-Nawas dari bangsa Tubba' menjadikan mereka Yahudi.

Semua berhala ini terus disembah sampai Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, yang memerintahkan agar berhala tersebut dihancurkan.

Hisyam ibn al-Kalbi (w. 406 H/661 M), dalam kitabnya Kitab al-Ashnam (Kitab Berhala), setelah rangkaian sejumlah rawi, menyebutkan, adalah Amr ibn Luhayy yang pertama menganjurkan Bahiirah, Saa'ibah, Washiilah, Haam, mengubah agama Ismail, dan mengundang bangsa Arab untuk menyembah berhala-berhala itu.

Inilah yang disebutkan di dalam al-Qur'an, "Allah sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya Bahiirah, Saa'ibah, Washiilah, dan Haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti." [QS. al-Maidah (5): 103].

Bahiirah, adalah unta yang telah beranak lima kali dan anak yang kelima itu jantan, lalu unta betina itu dibelah telinganya, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan tidak boleh diambil air susunya.
Saiibah, adalah unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja lantaran sesuatu nadzar. Seperti, jika seorang Arab Jahiliyah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, ia biasa bernadzar akan menjadikan untanya Saiibah bila maksud atau perjalanannya berhasil dan selamat.
Washiilah, adalah seekor domba betina yang melahirkan anak kembar jantan dan betina. Yang jantan di sebut Washiilah, tidak disembelih dan diserahkan kepada berhala.
Haam, adalah unta jantan yang tidak boleh diganggu gugat lagi, karena telah dapat membuntingkan unta betina sepuluh kali.

Perlakuan terhadap Bahiirah, Saiibah, Washiilah, dan Haam ini adalah kepercayaan Arab Jahiliyyah.


---ooo---

Sabtu, 11 Juni 2011

Keluarga Rasulullah SAW

Apa di balik keterkaitan nasab dengan Rasulullah SAW?

Keterkaitan nasab dengan Rasulullah SAW merupakan kebanggaan terbesar dan termulia di sisi orang-orang pandai dan bijak. Keluarga inti beliau dan cabang-cabangnya adalah keluarga dan cabang keluarga termulia, lantaran nasab mereka terhubung dengan nasab beliau dan keterkaitan kedudukan mereka dengan kedudukan beliau.

Para ulama bersepakat, pemimpin-pemimpin dari keluarga beliau yang mulia adalah manusia terbaik dari sisi dzatiyah (materi fisik & psykhis)-nya pihak bapak dan kakek, dan bahwasannya mereka sama dengan selain mereka terkait hukum-hukum syari'at dan sanksi hukum.


Adakah dalil-dalil, al-Qur'an dan hadits, yang terkait dengan masalah tersebut!

Dalam firmannya Allah SWT, "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahli bayt, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya" [QS. al-Ahzab (33): 33].

Para Ulama mengatakan, firman-Nya "Ahli Bayt" mencakup tempat tinggal dan Nasab. Dengan demikian, istri-istri Nabi SAW adalah ahli bayt tempat tinggal, dan kerabat Nabi SAW adalah ahli bayt nasab.
Terdapat beberapa hadits yang menunjukkan hal ini, di antaranya hadits yang di sampaikan Ath-thabarani (al-Kabir 3/56): Dari Abu Sa'id al-Khudri ra, ia mengatakan, "Ayat ini turun terkait Nabi SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.

Dalam sebuah hadits shahih dinyatakan, Nabi SAW memberikan pakaian kepada mereka dan berdo'a, "Ya Allah, mereka adalah keluargaku dan orang-orang khusus bagiku, hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya." [Disampaikan oleh At-Tirmidzi no.3871 dan Ahmad no.6/292 dari hadits Ummu Salamah ra]. At-Tirmidzi mengatakan, ini "hadits hasan" dan merupakan hadits terbaik yang diriwayatkan dalam hal ini. Menurut Allamah Arnauth dalam penjelasannya terhadap al-Musnad, "hadits ini shahih".

Dalam riwayat lain dinyatakan, Nabi SAW mengenakan pakaian  dan meletakkan tangan Beliau pada mereka serta berdo'a, "Ya Allah, sesungguhnya mereka adalah keluarga Muhammad, maka jadikanlah shalawat dan keberkahan-Mu pada keluarga Muhammad, Sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Maha Perkasa." [Disampaikan oleh Ahmad 3/323, Ath-thabarani dalam al-Kabir 3/53, dan Abu Ya'la dalam al-Musnad 12/344 dari hadits Ummu Salamah ra].

Di antara ayat-ayat yang menunjukkan keutamaan mereka adalah firman Allah SWT, "Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), 'marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, kami sendiri dan kamu juga, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta'." [QS. ali 'Imran (3): 61].
Para ahli tafsir mengatakan, ketika ayat ini turun, Rasulullah SAW memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Lalu Beliau memangku Husain dan menggandeng tangan Hasan, sementara Fathimah berjalan di belakang Beliau dan Ali di belakang keduanya, lalu Beliau berdo'a, "Ya Allah, mereka itu adalah keluargaku".
Dalam ayat ini, terdapat dalil yang jelas bahwa anak-anak Fathimah dan keturunan mereka di sebut anak-anak Beliau SAW, dan nasab mereka dinisbatkan kepada beliau dengan penisbatan yang shahih dan berguna di dunia dan akhirat.

Di kisahkan, Harun ar-Rasyid bertanya kepada Musa al-Kazhim ra, "Bagaimana kalian mengatakan bahwa kalian adalah anak cucu Rasulullah SAW, padahal kalian adalah keturunan Ali? Padahal, seseorang hanya di nisbatkan nasabnya kepada kakek dari pihk bapaknya, bukan kakeknya dari pihak ibu."
Al-Kazham menjawab: "Aku berlindung kepada Allah dari syetan terkutuk, dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, 'Dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim), yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, serta Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas' [QS. al-An'am (6): 84-85]. Isa as, tidak memiliki bapak, tetapi dia di gabungkan dalam keturunan para Nabi dari pihak ibunya. Demikian pula kami digabungkan dalam keturunan Nabi kita (Muhammad SAW), dari pihak ibu kami, Fathimah ra. Lebih dari itu, wahai Amirul Mukminin, saat turunnya ayat mubahalah, tidaklah Nabi SAW memanggil, kecuali kepada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain."
Demikianlah kisah ini disebutkan Allamah Syamsuddin al-Wasithi dalam "Majma' al-Ahbab".


Hadits-hadits yang terkait dengan keutamaan dan keistimewaan keluarga Nabi SAW.

Diantara hadits-hadits  tersebut adalah yang diriwayatkan Zaid bin Arqam ra, "Suatu hari Rasulullah SAW berdiri di antara kami untuk menyampaikan ceramah di tempat air yang disebut Khumm, antara makkah dan Madinah.
Beliau memuji dan menyanjung Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan, kemudian mengatakan, 'ketahuilah, wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah manusia yang tidak lama lagi akan kedatangan utusan Tuhanku, lantas aku memperkenankan dan aku meninggalkan di antara kalian dua peninggalan berharga.
Yang pertama, Kitabullah. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, terapkanlah kitab Allah dan berpegang teguhlah padanya'. Beliau menganjurkan penerapan kitab Allah dan menekankannya.
Kemudian beliau bersabda, 'Dan keluargaku. Aku ingatkan kalian pada Allah terkait keluargaku, aku ingatkan kalian pada Allah terkait keluargaku, aku ingatkan kalian pada Allah terkait keluargaku'."
Hushain bertanya kepada Zaid, "Siapa saja keluarga beliau, hai Zaid? Bukankah istri-istri beliau termasuk  keluarga beliau?"
Zaid menjawab, "Istri-istri beliau termasuk keluarga beliau, tetapi keluarga beliau sesungguhnya adalah mereka yang tidak di perkenankan menerima sedekah sepeninggal beliau."
"Siapa saja mereka?" tanya Hushain lagi.
Zaid menjawab, "Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja'far dan keluarga Abbas".
Hushain bertanya, "Mereka semua tidak diperkenankan menerima shadaqah?"
"Ya", jawabnya [Disampaikan oleh Muslim no. 4425 dari hadits Zaid bin Arqam ra].

Pada redaksi lain (terkait yang dikatakan Nabi SAW di Khumm), "Sesungguhnya aku meninggalkan di antara kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku. Salah satu dari keduanya lebih besar dari yang lain. Yaitu (pertama), kitab Allah SWT, tali yang menjulur dari langit ke bumi, dan (kedua) keturunanku, keluargaku. Tidaklah keduanya berpisah hingga menemuiku di telaga surga. Maka, perhatikanlah bagaimana kalian sepeninggalku dalam mencintai keduanya." [Disampaikan oleh At-Tirmidzi no. 3788 dan lainnya, juga dari hadits riwayat Zaid bin Arqam ra.].

Dalam salah satu syairnya, Imam Syafi'i ra mengatakan:

Wahai keluarga Rasulullah
cinta kepada kalian semua
adalah kewajiban dari Allah 
dalam al-Qur'an yang di turunkan-Nya

Cukuplah keagungan kedudukan kalian
bahwa kalian semua
siapa yang tidak bershalawat kepada kalian
tidak syah shalat baginya

Seorang pentahqiq mengatakan, "Siapa yang mencermati realita dan fakta, dia akan menemukan bahwa keluarga Nabi SAW (secara umum, kecuali sedikit sekali), adalah yang melaksanakan tugas-tugas agama, menyeru kepada syari'at Pemimpin para Rasul, bertaqwa kepada Tuhan mereka, kalangan terpilih lantaran kesungguhan mereka, menjalin persatuan yang kukuh.
(Sebuah maqalah mengatakan) 'Siapa yang menyerupai bapaknya, dia bukan seorang yang aniaya'.

Ulama mereka adalah para pemimpin umat dan tokoh terkemuka yang menyingkirkan tindak kezhaliman. Mereka adalah keberkahan bagi umat ini. Mereka menyingkap berbagai kesuraman yang menyelimuti alam. Maka, harus ada di setiap masa dari kalangan mereka yang, lantaran mereka itu, Allah menghindarkan malapetaka dari manusia. Karena, mereka adalah keamanan bagi penduduk bumi, sebagimana bintang-bintang adalah keamanan bagi penduduk langit."


Apakah penisbatan kepada Nabi SAW bermanfaat, baik di dunia maupun akhirat?

Nabi SAW bersabda, "Setiap hubungan nasab dan sabab (hubungan kekeluargaan lantaran pernikahan) terputus pada hari kiamat, kecuali nasabku dan sababku." [Disampaikan oleh Ibnu Asakir dalam bukunya At-Tarikh (21:67) dari hadits Ibnu Umar ra). Hadits ini menunjukkan besarnya manfaat penisbatan kepada Nabi SAW.

Dalil lainnya adalah hadits yang di sampaikan at-Thabarani dan lainnya, (dikutip) dari sebuah hadits yang cukup panjang, "Setiap sebab dan nasab terputus pada hari kiamat, kecuali sababku dan nasabku." [Disampaikan oleh At-Thabarani dalam al-Kabir 3/44 dan 11/343 dan al-Ausath 6/357].

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ra, ia mengatakan, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas mimbar, 'Ada apa dengan orang-orang yang mengatakan bahwa keterkaitan nasab dengan Rasulullah SAW tidak berguna bagi kaum beliau di hari kiamat kelak? Tentu, demi Allah, sesungguhnya keluargaku terjalin di dunia dan akhirat, dan sesungguhnya aku, wahai manusia, adalah yang mendahului kalian ke telaga surga'." [Disampaikan oleh Ahmad 3/18 dan lainnya, dari hadits Abu Sa'id al-Khudri ra].


--- ooo ---

Jumat, 17 Desember 2010

Ahlul Bayt

Diantara bukti keimanan seorang muslim adalah mencintai ahlul bayt Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Salam, karena mencintai ahlul bayt merupakan salah satu pilar kesempurnaan iman seorang muslim. Dalam al-Qur'an, kata ahlul bayt ditemukan dalam tiga surat.
pertama, Surat Hud ayat 73, yang membicarakan kisah Nabi Ibrahim AS.
kedua, dalam surat al-Qashash ayat 12, yang membicarakan kisah Nabi Musa AS.
ketiga, dalam surat al-Ahzab ayat 33, yang membicarakkan ketentuan terhadap istri-istri Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Salam.

Sebagai kata, ahlul bayt terbentuk dari ahl (keluarga, famili, kerabat, penghuni) dan bayt (rumah). Bagi masyarakat Arab pra-Islam, kata ini digunakan  untuk menunjukkan sebuah keluarga dari suatu suku. Sedangkan menurut istilah, kata ahlul bayt mengalami pengkhususan makna, yakni keluarga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam dan keturunannya.

Ahlul bayt merupakan suatu topik yang banyak berkaitan dengan ajaran Islam. Secara hukum (fiqih), ahlul bayt tidak boleh menerima zakat, tapi boleh menerima harta ghanimah (harta rampasan perang). Para ulama ahlussunnah bersepakat tentang diharamkannya ahlul bayt menerima shadaqah, sebagaimana riwayat Imam Muslim dari Zaid bin Arqam, tatkala Husain bin Sibrah  ra bertanya kepada Zaid tentang ahlul bayt.
Dalam masalah fiqih lainnya, penyebutan ahlul bayt menjadi keharusan dalam pembacaan shalawat atas Nabi dalam shalat pada tahiyyat akhir. Di luar shalat, membaca shalawat dengan menyertakan keluarga (al-Muhammad) adalah anjuran utama.
Sedangkan dalam politik, ahlul bayt terkadang menjadi kunci dalam penentuan kepemimpinan, terutama dalam pandangan sekte Syi'ah.


Beragam Definisi Ahlul Bayt

Di kalangan salaf, yang digolongkan sebagai ahlul bayt adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Salam, Ali ra, Fathimah ra, Hasan ra, Husain ra, dan istri-istri Nabi SAW (ummahatul mu'minin). Pendapat ini berdasarkan hadits yang disandarkan kepada ummu Salamah yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Al-Hakim, Ibnu Mardawayh, dan Al-Baihaqi.
Makna keluarga Nabi ini pun meluas, tidak saja kepada keluarga Nabi yang terdekat, namun juga kerabat keluarga di kalangan Bani Hasyim dan Bani Muthalib, seperti keluarga Ja'far, keluarga Aqil, keluarga Abbas, keluarga Bani Harits bin Abdul Muthalib, serta para istri beliau dan anak-anak mereka. Jadi yang dimaksud ahlul bayt adalah:
1. Keluarga Ali ( sahabat Ali sendiri, Fathimah, Hasan dan Husain beserta anak keturunannya).
2. Keluarga Aqil (Aqil sendiri dan anaknya, yaitu Muslim bin Aqil beserta anak cucunya).
3. Keluarga Ja'far bin Abi Thalib (Ja'far berikut anak cucunya, yaitu Abdullah, Aus dan Muhammad).
5. Kel
4. Keluarga Abbas bin Abdul Muthalib (Abbas beserta sepuluh putranya, yaitu: Abdullah, Abdurrahman, Qutsam, Al-Harits, Ma'bad, Katsir, Aus, Tamam, dan putri-putrinya).
uarga Hamzah bin Abdul Muthalib ( Hamzah dan ketiga anaknya, yaitu: Ya'la, 'Imarah dan Umamah).
6. Para istri Nabi, tanpa terkecuali.

Sedangkan ahlul bayt menurut beberapa kalangan Syi'ah, hanyalah Ali ra, Fathimah ra, Hasan ra, Husain ra, beserta dengan Nabi SAW. Pandangan ini tak lepas dari faktor politik pasca wafatnya Rasulullah SAW. Namun, Muhammad Husein Thabathaba'i, seorang ulama Syi'ah kontemporer terkemuka, berpendapat bahwa yang dimaksud ahlul bayt adalah: Seluruh keluarga Nabi berikut kerabat-kerabatnya, pandangan ini tak lepas dari urusan waris.

Muhammad Nashiruddin al-Albani berpendapat, bahwa yang dimaksud ahlul bayt adalah: para ulama, orang-orang shalih, serta orang-orang yang berpegang teguh dengan kitab dan sunnah dari kalangan mereka (ahlul bayt).
Abu Ja'far Ath-Thahawi mengartikan "al-'itrah", dalam hadits tentang tsaqalain (dua hal yang berat/kukuh), adalah keluarga Nabi yang berkomitmen dan berpegang teguh dengan perintah Nabi SAW.
Syaikh Ali Al-Qari berpendapat, ahlul bayt adalah orang yang paling mengerti "ihwal shahibul bayt" (Rasulullah SAW) dan yang paling tahu hal ihwalnya. Maka yang dimaksud dengan ahlul bayt disini, adalah ahlul 'ilmi (ulama) dikalangan ahlul bayt yang mengerti seluk-beluk hidup Rasulullah SAW dan orang-orang yang menempuh jalan hidup beliau, serta orang-orang yang mengetahui  hukum dan hikmahnya.

Mengenai istri-istri Nabi, mereka termasuk golongan ahlul bayt, sebagaimana tafsir atas ayat yang berbunyi: "Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan kotoran dari kalian, wahai ahlul bayt, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya" (Al-Ahzab: 33). Semua istri Nabi SAW mempunyai hak yang sama dengan hak-hak ahlul bayt yang lain.
Ibnu Katsir berpendapat, orang yang memahami Al-Qur'an tidak akan ragu bahwa para istri Nabi SAW termasuk ke dalam ahlul bayt. Ini juga pendapat Imam Al-Qurtubi, Ibnu Hajar, Ibnu Qayyim, dan lainnya.
Ibnu Taimiyah berpendapat, hujjah atas para istri Nabi termasuk ahlul bayt, selain ayat diatas, juga karena adanya suatu riwayat Al-Bukhari yang menjelaskan bahwa, Nabi mengajari lafadz shalawat kepadanya dengan lafadz: "Ya Allah, berilah keselamatan atas Muhammad dan istri-istrinya serta anak keturunannya" (Riwayat Imam Bukhari pada kitab Syarh Fatkhul Bari, karya Al-Asqalani).

--000--

Selasa, 14 Desember 2010

Jin, Iblis dan Setan

Untuk memahami ketiga mahluk ghaib ini, jalan terbaik adalah menelusuri keterangan yang Allah SWT berikan tentang mereka, yaitu di dalam kitab suci al-Qur'an. Dalam al-Qur'an kata-kata jin, iblis dan setan disebutkan dibeberapa tempat.

Misalnya, dalam surat Ar-Rahman, saat Allah SWT menyeru jin dan manusia untuk menjelaskan nikmat-Nya kepada mereka yang menentukan balasan ukhrawi untuk mereka. Dalam surat itu, pertanyaan yang menakjubkan Fa biayyi ala-i rabbikuma tukadzdziban? (Maka, nikmat Tuhan kalian yang mana lagi yang kalian dustakan?) disebut berulang-ulang.

Terkait dengan hal ini, Nabi SAW memuji bangsa jin yang telah menjadi mukmin, ketika beliau membaca surah Ar-Rahman di hadapan para sahabatnya. Saat para sahabat terdiam, beliau bersabda: "Pada awalnya, jin lebih baik dari kalian. Setiap kali dibacakan firman Allah 'Maka, nikmat Tuhan kalian yang mana lagi yang kalian dustakan?', mereka mejawab: 'Tidak ada satupun nikmat-Mu yang kami dustakan, wahai Tuhan segala puji bagimu'."


Jin: Menerima Taklif

Secara bahasa, kata jin memiliki makna "sesuatu yang tersembunyi". Jin adalah sosok mahluk yang tersembunyi dari pandangan manusia. Kata itu pula yang menjadi asal kata janin, sosok tersembunyi dalam perut ibu.
Kata jinnah, yang artinya suatu keadaan ketika akal tertutup, seperti disebutkan dalam QS. Saba' ayat 46, dapat pula berarti jin, seperti dalam firman Allah: "Minal jinnati wan nas", dari golongan jin dan manusia (QS. An-Nas: 5).
Namun dalam pengertian syar'i, jin adalah sosok yang pintar, mukallaf, tidak terlihat, dapat berketurunan, ada sebelum manusia diciptakan, dan berasal dari materi yang tercita dari api. Allah SWT, berfirman:
"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya (wa qabiluhu) melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak dapat melihat mereka" (QS. al-A'raf: 27).
Makna kata "qabil" dalam ayat diatas, adalah bala tentara dan keturunan. Kemampuan jin dalam berketurunan sangat jelas, seperti disebutkan dalam ayat, "Di dalam surga ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin" (QS. ar-Rahman: 56).

Keterangan tentang awal penciptaan jin dan sifat materiilnya terdapat dalam firman Allah SWT: "Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas" (QS. al-Hijr: 26-27). Dalam ayat lain disebutkan, "Dia menciptakan jin dari nyala api" (QS. ar-Rahman: 15).
Kata-kata "api yang sangat panas" (nar as-samum) dalam surah al-Hijr, maksudnya adalah api yang tidak berasap sama sekali, saking panasnya. Makna ini juga sesuai dengan makna "nyala api" dalam surat ar-Rahman. Api, yang sangat panas dan bersih, yang tidak memiliki asap.

Awal penciptaan jin adalah api. Setelah diciptakan mereka mengalami berbagai perubahan, hingga mahluk ini tercipta secara utuh. Sebagaimana manusia, pada awal diciptakan, mereka terbuat dari tanah, kemudian mengalami perubahan.
Tentang "taklif" (pembebanan) syariat terhadap para jin, dalam al-Qur'an hal itu telah tertuang secara tegas, misalnya pada ayat yang berisi hikmah ciptaan Allah SWT, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku" (QS. adz-Dzariyat: 56).

Surat Jin dalam al-Qur'an diterangkan, kaum jin mendengar lantunan al-Qur'an dan memahami maksudnya. Mereka beriman dan menyesali segala sesuatu yang telah mereka lakukan sebelum datangnya islam. Pada pembukaan surat tersebut (ayat 1-4). Allah SWT berfirman, "Katakanlah (hai Muhammad), telah diwahyukan kepadamu bahwasannya telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur'an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur'an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami. Dan bahwasannya maha tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak. Dan bahwasannya orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah".

Ayat diatas dengan jelas menunjukkan bahwa jin hidup di sekitar kita, merekapun dibebani taklif seperti kita. Diantara mereka ada  yang mukmin dan kafir, mereka dapat memahami bahasa kita dan melihat kita, sementara kita tidak melihat mereka.
Allah SWT berfirman: "Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaiakan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri', kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir" (QS. al-An'am: 130).


Iblis: Permusuhan Abadi

Dalam literatur bahasa, kata "iblis" berasal dari bahasa non-Arab. Karena itu, kata ini termasuk kata yang tidak berderivasi, mamnu' min ash-sharf. Namun sebagian pendapat mengatakan, iblis berasal dari kata Arab "ablasa" (putus asa), atau "iblas" (patah hati dan bersedih). Dalam bahasa Arab, orang yang tengah diam bersedih diungkap dengan kalimat ablasa Fulan (si Fulan tengah diam bersedih).

Kata "Iblis" disebutkan al-Qur'an dalam kisah Nabi Adam AS. Allah memerintah malaikat dan iblis untuk sujud hormat kepada Adam, bukan sujud ibadah. Para malaikat segera memenuhi perintah Tuhannya, "Lalu seluruh malaikat itu sujud" (QS. Shad: 73). Tapi iblis menolak utnuk sujud, ia membuat analogi yang lemah demi melawan perintah Allah SWT, "aku lebih baik darinya, Kau ciptakan aku dari api, sementara Kau ciptakan dia dari tanah".

Sesungguhnya, tidak ada keunggulan yang terjadi dengan sendirinya. Semua hal tergantung pada pilihan dan kehendak Allah. Allah menegaskan, "Dan Tuhanmu mencipatakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha tinggi dari apa yang mereka perekutukan (dengan Dia)" (QS. al-Qashash: 68). Kemudian Allah mengusir iblis dan menempatkan Adam di surga.

Di dalam surga, Adam diperbolehkan emakan apa saja yang diinginkan kecuali buah dari satu pohon, yang konon buah itu bernama "Khuldi". Allah SWT berfirman, "Dan Kami berfirman, 'Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanan yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim'." (QS. al-Baqarah: 35).
Setelah Adam berpisah dengan iblis, iblis mulai melakukan tipu dayanya untuk menjerumuskan Adam dalam maksiat. Iblis merayu Adam, bahwa pohon larangan itu memiliki keistimewaan yang dapat mendekatkan Adam kepada Tuhannya dan menjadikannya abadi di surga, hal tersebut sebagimana dikisahkan dalam QS. al-A'raf ayat 20-22.
Akhirnya, Adam (dan Hawa) terkena bujuk rayu iblis dan memakan buah pohon tersebut, hingga aurat mereka terbuka. Keduanya pun segera merasa telah melakukan kesalahan besar. Karena itu, mereka segera memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah dengan penuh penyesalan. "Keduanya berkata: 'Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri; dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi'." (QS. al-A'raf: 23).
Melihat kesungguhan dan ketulusan Adam dalam bertaubat, Allah SWT menerima taubatnya itu dan mengampuninya. Bahkan Allah memilihnya sebagai pengemban risalah-Nya. "Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang" (QS. al-Baqarah: 37).

Mengenai kaitan antara manusia dan iblis, perhatikanlah: Permusuhan antara Adam dan iblis adalah permusuhan abadi. Iblis sangat memusuhi dan membenci Adam. Segala tipu dayanya terus disebar kepada Adam dan seluruh anak cucunya. Allah SWT berfirman: "Iblis menjawab, 'Beri (waktu) tangguhlah aku sampai waktu mereka dibangkitkan'.
Allah berfirman: 'Sesungguhnya engkau termasuk mereka yang diberi tangguh'.
Iblis menjawab: 'Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)". (QS. al-A'raf: 14-17).


Setan: Hubungan Penuh Dosa

Dalam bahasa Arab, "setan" berarti "yang sombong dan penentang", baik dari kalangan manusia, jin, maupun binatang. Tak aneh, orang Arab terkadang  menyebut ular dengan setan.
al-Qur'an biasa menggunakan kata setan untuk menggambarkan sosok manusia dan jin yang suka menentang dan sombong, seperti dalam firman Allah SWT: "Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan menengerjakannya. maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan".
Dimanapun, musuh para Nabi adalah sekelompok orang yang sombong dan congkak. Al-Qur'an berbicara satu contoh pertemuan antara setan, jin dan manusia yang menentang di jalan Allah. "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu benar-benar dalam permusuhan yang sangat. Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasannya al-Qur'an itulah yang haq dari Tuhan-mu, lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepada-Nya, dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus" (QS. al-Hajj: 52-54).

Kehidupan tidak pernah sepi dari rintangan, setan-setan dari kalangan jin dan manusia selalu menghalangi setiap upaya dakwah. Mereka mengganggu, menyebarkan fitnah, melakukan kerusakan di muka bumi, dan menghalangi perjuangan di jalan Allah SWT.
Hubungan antara "setan manusia" dan "setan jin", adalah hubungan penuh dosa dan kebencian, baik di dunia maupun di akhirat. Namun hubungan ini cenderung rapuh,. Suatu hari nanti, setiap kelompok akan lari dari kelompok yang lain, caci maki terjadi diantara mereka. Itu terjadi pada hari ketika segala penyesalan sudah tidak berguna lagi, dan mereka semua merasakan penyesalan yang mendalam.

Adapun bagi manusia yang ikhlas dalam berhubungan dengan-Nya, mereka cepat bersimpuh di hadapan kebesaran dan kekuasaan-Nya, setan terasa kecil dihadapan dzikir mereka. Godaannya menjadi lemah dan nyalinya menjadi ciut. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa, bila mereka ditimpa bisikan setan, mereka ingat kepada Allah. Maka ketika itu juga, mereka melihat kesalahan-kesalahannya" (QS. al-A'raf: 201). Karenanya, mengingat kepada-Nya adalah cara terbaik untuk mengatasi godaan setan, baik "setan jin" maupun "setan manusia".

Dari berbagai keterangan di atas, maka dapat diambil kesimpulan sbb:
1. Iblis adalah moyang jin, sebagaimana Adam adalah moyang seluruh manusia.
2. Jin adalah mahluk mukallaf (dibebani syari'at) sebagaimana manusia, diantara mereka ada yang beriman dan adapula yang kafir.
3. Setan adalah mahluk yang sombong dan selalu berbuat kerusakan, baik dari kalangan jin maupun manusia.
4. Mahluk yang paling sombong adalah iblis, dan dia adalah setan terbesar dan yang pertama.

Minggu, 05 Desember 2010

Shalawat dan Do'a: Do'a Kalam Qodim

Shalawat dan Do'a: Do'a Kalam Qodim: "كلام قديم لا يمل سماعه , تنزه عن قول وفعل ونية به اشتفى من كل داء ونوره , دليل لقلبى عند جهلى وخيرتى فيا رب متعنى بسر حروفه ,ونور به قلبى و ..."