Tampilkan postingan dengan label Kisah al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juni 2013

Inovasi Baru Dalam al-Qur'an

Sejarah penulisan, penyusunan dan penyebaran Al-Quran bermula dari zaman Rasulullah SAW. Pada zaman ini, penyusunan telah mulai dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW. Baginda menyuruh para sahabat supaya menulis ayat2 Al-Quran pada tulang, pelepah2 kurma, kulit2 binatang dan sebagainya. Rasulullah SAW juga menghafal ayat2 tersebut dan meminta para sahabat yang lain menghafalnya juga.

Sahabat2 yg menjadi penulis wahyu pada masa itu ialah Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyyah bin Abi Sufyan, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka'ab, Abdullah bin Mas'ud dan lain sebagainya.


Sejarah Pebukuan al-Qur'an Setelah Rasulullah SAW wafat,

Setelah melihat banyaknya penghafal al-Qur'an yang meninggal dalam perang Yamamah, menyebabkan kebimbangan dan kemasygulan pada diri Sayidina Umar bin Al-Khaththab. Dan atas dorongan dan desakan Sayidina Umar bin Al-Khaththab, Khalifah Abu Bakar mengambil keputusan utk menghimpun Al-Quran. Beliau telah memerintahkan Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka'ab, Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan supaya menyempurnakan tugas ini.

"Sayidina Umar ra mendatangi Khalifah Abu Bakar ra, dan berkata: "Wahai Khalifah Rasulullah SAW, saya melihat pebunuhan dalam peperangan Yamamah telah mengorbankan para penghafal al-Qur'an, bagaimana kalau Anda menghimpun al-Qur'an dalamsatu Mushhaf?" Khalifah menjawab: "Bagaimana kita akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah  SAW?" Umar berkata: "Demi Allah, ini baik". Umar terus meyakinkan Abu Bakar, sehingga akhirnya Abu Bakar menerima usulan Umar. Kemudian keduanya enemui Zaid bin Tsabit ra, dan menyampaikan tentangrencana mereka kepada Zaid. Ia menjawab: "Bagaimana kalian akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW?" Keduanya menjawab: "Demi Allah, ini baik". Keduanya terus meyakinkan Zaid, hingga akhirnya Allah melapangkan dada Zaid sebagaimana telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umardalam rencana ini".
[Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (4679), al-Tirmidzi (3103), Ahmad (1/10), dan al-Nasa'i dalam Fada'il al-Qur'an (20)]

Keterangan:
Umar mengusulkan menghimpun al-Qur'an dalam satu Mushhaf.
Abu Bakar mengatakan, bahwa hal itu belum pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Tetapi Umar meyakinkan Abu Bakar, bahwa hal itu tetap baik walaupun belum pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Dengan demikian, tindakan beliau ini tergolong bid'ah.
Dan para ulama sepakat bahwa menghimpun al-Qur'an dalam satu Mushhaf hukumnya wajib, meskipun termasuk bid'ah, agar al-Qur'an tetap terpelihara. Oleh karena itu, penghimpunan al-Qur'an ini tergolong bid'ah hasanah yang wajibah.


Pemberian Titik Dalam Penulisan Mushhaf

Pada masa Rasulullah SAW Penulisan Mushhaf al-Qur'an yang dilakukan para sahabat tanpapemberian titik terhadap huruf2nya, seperti ba, ta, tsa, nun, ya; jim, kha, kho; dll.

Bahkan ketika Khalifah Utsman menyalin Mushhaf menjadi 6 salinan, yang 5 salinan dikirimnya ke berbagai kota negara Islam (Basrah, Mekah, dll) dan 1 salinan untuk beliau pribadi, juga tanpa pemberian titik pada huruf2nya.

Pemberian titik pada Mushhaf al-Qur'an baru dimulai oleh seorang ulama tabi'in, Yahya bin Ya'mur (wafat sebelum th 100H/719M). Dalam hubungan ini ada tiga nama yang disebut-sebut oleh ulama di zamannya, yakni : Abu al-Aswad al du-ali dan nama ini yang paling popular Yahya ibn Ya’mar dan Nashr ibn ‘Ashim al-Laitisi. 

Al-Imam Ibn Abi Dawud al-Sijstani meriwayatkan:
"Harun bin Musa berkata: "Orang yang pertama kali memberi titik pada Mushhaf adalah Yahya bin Ya'mur". (AL-Mashahif, hal. 158)

Setelah beliau memberikan titik pada Mushhaf, para ulama tidak menolaknya, meskipun Nabi SAW belum pernah memerintahkan pemberian titik pada Mushhaf.


Pemberian Kharakat (Syakal)

Imam Kholil bin Ahmad al-Farohidi (wafat 185 H), adalah seorang yang memperkenalkan penggunaan tanda titik dan harakat (syakal). Beliau menandai bunyi u (dammah) dengan wawu kecil di atas huruf, bunyi a (fathah) dengan alif yang ditulis horizontal, dan bunyi i (kasrah) dengan ya’ kecil yang disambung dibawah huruf, sukun, tasydid, dll.


Makhrajul Huruf

Imam Abu Ubay Qosim bin Salam (wafat 224 H), adalah seorang yang pertama kalinya menemukan dasar2 ilmu Tajwid (Idhar, ikhfa,idgham, idgham bighunah, iqlab), dan beliau yang mula2 memberikan tanda (simbol) mad dalam huruf2 al-Qur'an.

Tidak terbayangkan, seandainya tanda MAD tdk ditulis dalam al-Qur'an, mungkin generasi kita banyak kesalahan dalam cara bacanya, seperti:
Alif Lam Mim, akan dibaca: "Alam" atau "alif-lam-mim" tanpa pembeda panjang pendeknya huruf;
Alif Lam Mim Shad, akan dibaca: "Alamash" atau "alif-la-mim-shad" saja tanpa pembeda, dll.

Minggu, 01 Januari 2012

KISAH MANUSIA DI HARI QIYAMAH


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
رُوِىَ أَنَّهُ إِذاَ جَمَعَ اللهُ النَّاسَ فىِ صَعِيْدٍ واَحِدٍ يَوْمَ القِياَمَةِ أَقْبَلَتْ النَّارُ يَرْكَبُ بَعْضُهاَ بَعْضاً وَخَزَنَتُهاَ يَكِفُوْنَهُ عَنِ النَّاسِ وَهِىَ تَقُوْلُ وَعِزَّةِ رَبِّى لَيَخْلِيَنَّ بَيْنِى وَبَيْنَ أَزْواَجِى فَيَقُوْلُوْنَ لَهاَ وَمَنْ أَزْواَجُكَ فَتَقُوْلُ كُلُّ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

Diriwayatkan Bahwa Nabi Muhammad Saw, di saat Allah mengumpulkan semua manusia dari semenjak Nabi Adam as di sebuah lapangan pada hari Qiyamah, tiba-tiba datang kobaran api yang sangat besar menghampiri manusia, para malaikat pada berjaga-jaga, namun api itu berkata ;
Api                     Demi kemuliaan tuhanku sungguh aku akan menjemput serta mendekap suami-suamiku,
Manusia            Hai api, siapa suami-suamimu itu ?
Api                     Suami-suamiku adalah setiap orang takabur nan sombong.
فَلاَيَزاَلُ النَّاسُ يَمُوْجُ بَعْضُهُمْ فىِ بَعْضِ أَلْفَ عاَمٍ وَاللهُ تَعاَلىَ لاَيُكَلِّمُهُمْ كَلِمَةً واَحِدَةً فَيَشْتَدَّ الهَوْلُ عَلَى أَهْلِ المَوْقِفِ حَتَّى يَتَمَنَّوا الإِنْصِراَفَ مِنْ هَذاَ المَوْقِفِ وَلَوْ إِلىَ جَهَنَّمَ

Semua manusia pada mundur berdesak-desakan selama 1000 (seribu) tahun, selama itu pula Allah tidak menyahut permohonan mereka, mereka semua di biarkan berdesak-desakan, terjadilah kerusuhan yang luar biasa hingga mereka mengharap sekali keluar dari kerusuhan itu meskipun harus masuk ke jurang neraka Jahannam.
فَيَقُوْلُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ إِذْهَبُوْا إِلىَ أَبِيْكُمْ آدَمَ فَيَأْتُوْنَ آدَمَ فَيَقُوْلُوْنَ ياَأَباَالبَشَرِ الأَمْرُ عَلَيْناَ شَدِيْدٌ وَأَنْتَ الَّذِى خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلاَئِكَتُهُ وَنُفِخَ فِيْكَ مِنْ رُوْحِهِ اِشْفَعْ لَناَ فىِ فَصْلِ القَضاَءِ اشْفَعْ لَناَ إِلىَ رَبِّكَ لِيَقْضِى بَيْنَناَ

Sebagian manusia berkata pada yang lainnya, mari kita cari Nabi Adam mudah-mudahan Nabi Adam bisa menolong dari kerusuhan ini, lalu mereka semua berbondong-bondong mencari Nabi Adam as selama seribu tahun, setelah bertemu Nabi Adam as, mereka berkata ;
Wahai bapak semua manusia, kami semua mengalami kesulitan besar, engkau yang Allah ciptakan dengan kekuasaan Nya, yang malaikat tunduk di hadapanmu, di tiupkan kepadamu dari ruh yang di ciptakan Allah, tolonglah kami dalam Fashal-Qodlo ini !, memohonkan pertolongan kepada tuhanmu agar kami segera di jalankan keadilan hukum !!
فَيَقُوْلُ لَسْتُ هُناَكَ إِنِّى قَدْ أُخْرِجْتُ مِنَ الجَنِّةِ بِخَطِيْئَةٍ وَأَنَّهُ لَيْسَ يُهِمُّنِى اليَوْمَ إِلاَّ نَفْسِى وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِنُوْحٍ فَإِنَّهُ أَوَّلُ المُرْسَلِيْنَ

Nabi Adam      as menjawab, Aku bukanlah orang yang dapat menolong kamu sekalian, sungguh aku telah dikeluarkan dari sorga lantaran sebuah kehilafan memakan buah terlarang, hari ini tidak ada yang meresahkan aku melainkan memikirkan aku sendiri dan kehilafanku itu, akan tetapi coba temui Nabi Nuh as siapa tahu beliau dapat memberi pertolongan, karena beliau adalah orang pertama yang menjadi rosul !! 
فَيَأْتُوْنَ نُوْحاً وَيَقُوْلُوْنَ لَهُ اشْفَعْ لَناَ إِلىَ رَبِّكَ لِيَقْضِى بَيْنَناَ

Kemudian mereka mencari Nabi Nuh seribu tahun dan ketika bertemu Nabi Nuh as mereka berkata ;
Wahai Nabi Nuh rosul yang tertama, kami semua mengalami kerusuhan besar, tolongilah kami !, agar memohonkan pertolongan kepada tuhanmu agar kepada kami segera di jalankan keadilan hukum !!
فَيَقُوْلُ لَسْتُ هُناَكَ إِنِّى دَعَوْتُ دَعْوَةً أَغْرَقَتْ أَهْلَ الأَرْضِ وَأَنَّهُ لَيْسَ يُهِمُّنِى اليَوْمَ إِلاَّ نَفْسِى وَلَكِنِ ائْتَوْا إِبْراَهِيْمَ الَّذِى اتَّخَذَهُ اللهُ خَلِيْلاً

Nabi Nuh as menjawab, Aku bukanlah orang yang dapat menolong kamu sekalian, sungguh aku telah berdo’a dengan do’a yang menenggelamkan penghuni bumi, aku merasa hal itu sebuah kehilafan dan hari ini tidak ada yang meresahkan pada diriku melainkan kehilafan itu, coba temui Nabi Ibrahim yang menjadi kekasih Allah !!
فَيَأْتُوْنَ إِبْراَهِيْمَ فَيَقُوْلُوْنَ اِشْفَعْ لَناَ إِلىَ رَبِّكَ لِيَقْضِى بَيْنَناَ

Kemudian mereka mencari Nabi Ibrahim as seribu tahun dan ketika bertemu mereka berkata ;
Wahai Nabi Ibrahim rosul kekasih Allah, kami semua mengalami kerusuhan besar, tolonglah kami !, memohonkan pertolongan kepada tuhanmu agar kami segera di berlakukan keadilan hukum !!
فَيَقُوْلُ لَسْتُ هُناَكَ إِنِّى قَدْ كَذَّبْتُ فىِ الإِسْلاَمِ ثَلاَثَ كَذَباَتٍ وَهِىَ قَوْلُهُ سَقِيْمٌ وَقَوْلُهُ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هَذاَ وَقَوْلُهُ ِلإِمْرَأَتِهِ إِنَّهاَ أُخْتِى وَلَيْسَ يُهِمُّنِى اليَوْمَ إِلاَّ نَفْسِى وَلَكِنْ ائْتَوْنَ مُوْسَى الَّذِى كَلَّمَهُ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْماً 

Nabi Ibrahim   menjawab, Aku bukanlah orang yang dapat menolong kamu sekalian, sungguh aku telah melakukan 3 (tiga) kali perbuatan dusta yaitu mengatakan sakit, mengatakan penghancur berhala-berhala kecil adalah berhala paling besar dan mengatakan saudara perempuan pada istriku, dan hari ini tidak ada yang meresahkan aku melainkan kehilafan itu, coba temui Nabi Musa as yang Allah Swt berbicara padanya dengan jelas !!

PERINGATAN
Berkenaan dosa Nabi Adam, Nabi Nuh Nabi Ibrahim dan Nabi-nabi lainnya adalah sesungguhnya bukan dosa karena di balik semua itu terdapat hikmah, karena Nabi terjaga dari berbuat dosa, Nabi Ibrahim 3 (tiga) kali melakukan kehilafan yang mengandung hikmah adalah sebagai berikut :
1.   Mengatakan sakit padahal tidak sakit, ketika di ajak kaum penyembah berhala agar beliau mengikuti acara makan-makan beserta mereka di hadapan berhala-berhala, sebagaimana firman Allah Swt ;
فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٌ ( الصافات 89)
Artinya :
Kemudian ia (Ibrahim) berkata: "Sesungguhnya aku sakit".
2.    Mengatakan yang menghancurkan berhala-berhala kecil adalah berhala yang paling besar, ketika beliau di tanya Namrud “siapa yang menghancurkan berhala ?”, sebagaimana firman Allah Swt ;
قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ (الأنبياء 63)
Artinya :
Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara".
3. Mengatakan saudara perempuannya pada istrinya, ketika beliau di tanya seorang raja yang dlolim, “siapa perempuan yang bersamanya ?”.
Kembali ke kisah…
فَيَأْتُوْنَ مُوْسَى فَيَقُوْلُ لَسْتُ هُناَكَ إِنِّى قَتَلْتُ نَفْساً بِغَيْرِ حَقٍّ لَيْسَ يُهِمُّوْنِى اليَوْمَ إِلاَّ نَفْسِى وَلَكِنْ ائْتُوْا عِيْسَى رُوْحُ اللهِ وَكَلِمَتُهُ

Kemudian mereka (semua manusia) mencari Nabi Musa seribu tahun dan ketika bertemu Musa as menjawab ;
Aku bukanlah orang yang dapat menolong kamu sekalian, sungguh aku telah menghilangkan nyawa orang, yaitu meninju seorang suku Qibti sampai meninggal, dan hari ini tidak ada yang meresahkan aku melainkan kehilafan itu, coba temui Nabi Isa as, karena Isa adalah Ruhullah ( Ruh yang di ciptakan Allah ) dan Kalimatullah ( Utusan Allah ) 
فَيَأْتُوْنَهُ فَيَقُوْلُ إِنِّى اتَّخَذْتُ وَأُمِّى إِلَهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللهِ وَإِنِّى لاَيُهِمُّنْىِ اليَوْمَ إِلاَّ نَفْسِى وَلَكِنْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كاَنَ ِلأَحَدٍ بِضاَعَةٌ فَجَعَلَهاَ فىِ كَيْسٍ ثُمَّ خَتَمَ عَلَيْهاَ أَكاَنَ يَصِلُ إِلىَ ماَفىِ الكَيْسِ حَتَّى يَفِضُ الخَتْمَ

Kemudian mereka mencari Nabi Isa as seribu tahun dan ketika bertemu, Isa menjawab ;
Aku bukanlah orang yang dapat menolong kamu sekalian, sungguh aku telah menjadikan aku dan ibuku sebagai tuhan dari selain Allah, dan hari ini tidak ada yang meresahkan aku melainkan kehilafan itu, tetapi apakah diantara kalian memiliki bekal lalu dimasukan kedalam kantung dan masing-masing memberi tanda pada kantung itu dan kemudian mengambil bekal itu sedikit demi sedikit hingga habis ??
فَفَيَقُوْلُوْنَ لاَ فَيَقُوْلُ إِنَّ مُحَمَّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خاَتَمُ الأَنْبِياَءِ وَقَدْ واَفىَ اليَوْمَ وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ ماَتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَماَتَأَخَرَ ائْتُوْهُ

Mereka (orang-orang) menjawab Tidak, kemudian Nabi Isa berkata, Sesungguhnya Muhammad Saw adalah Nabi terakhir hari ini keinginan akan dapat terpenuhi, Allah telah mengampuni segala dosa-dosa Muhammad baik yang terdahulu atau dosa berikutnya, coba temui beliau !!
فَيَأْتُوْنَهُ فَيَقُوْلُ أَناَ لَهاَ أُمَّتِى أُمَّتِى ثُمَّ يَخِرُّ ساَجِداً تَحْتَ العَرْشِ كَسُجُوْدِ الصَّلاَةِ فَيُقاَلُ ياَمُحَمَّدٌ اِرْفَعْ رَأْسَكَ وَسَلْ تُعْطَ وَاشْفَعْ تُشْفَعْ

Kemudian mereka mencari Nabi Muhammad Saw seribu tahun, ketika bertemu, Nabi Muhammad menjawab ;
Aku-lah yang akan memohonkan pertolongan kepada tuhanku, wahai ummatku, ummatku ….” Lalu Nabi Muhammad bersujud di bawah Arasy seperti halnya sujud dalam sholat, dan Allah Swt berkata ; “Hai Muhammad ! angkatkan kepalamu, mintalah ! niscaya aku berikan, mintalah pertolongan niscaya aku berikan pertolongan !!”
فَيَرْفَعُ رَأْسَهُ وَيَشْفَعُ فىِ فَصْلِ القَضاَءِ ثُمَّ أَنَّ أَهْلَ المَوْقِفِ يَنْصَرِفُوْنَ مِنْ هَذاَ المَوْقِفِ إِلىَ الحِساَبِ

Lalu Nabi Muhammad mengangkatkan kepalanya dan Beliau di berikan pertolongan di Fashal-Qodlo . kemudian semua orang ahli mauqif keluar dari mauqif ini menuju ke tempat Hisab.
وَلاَيَناَلُ شَيْءٌ مِنْ هَذاَ الهَوْلِ الأَنْبِياَءَ وَالأَوْلِياَءَ وَلاَساَئِرَ العُلَماَءِ لِقَوْلِهِ تَعاَلىَ لاَيَحْزَنُهُمْ الفَزَعُ الأَكْبَرُ

Sedikitpun dari kerusuhan ini tidak sampai mengenai para nabi, para wali dan para Ulama, karena firman Allah Swt ;
لاَيَحْزَنُهُمْ الفَزَعُ الأَكْبَرُ
Artinya :
“Mereka tidak di susahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari Qiyamah)” ( Al-Anbiya 103 )

فَهُمْ آمِنُوْنَ مِنْ عَذاَبِ اللهِ لَكِنَّهُمْ يَخاَفُوْنَ خَوْفَ إِجْلاَلٍ وَإِعْظاَمٍ

Mereka ( para Nabi, para Wali dan para Ulama) meyakini siksa Allah akan tetapi mereka merasa takutnya lantaran takut dengan mengagungkan dan memuliakan.
وَقِيْلَ أَنَّ الَّذِى يَذْهَبُ إِلىَ الأَنْبِياَءِ لِطَلَبِ الشَّفاَعَةِ رُؤُساَءِ أَهْلِ المَوْقِفِ وَماَبَيْنَ إِتْياَنِهِمْ مِنْ نَبِىٍّ إِلىَ نَبِىٍّ أَلْفَ عاَمٍ

Dalam sebuah riwayat di katakan, sesungguhnya orang-orang yang berbondong-bondong menemui para nabi untuk meminta Syafaat adalah para pimpinan ahli Mauqif dan perjalanan yang di tempuh mereka antara satu nabi ke nabi yang lain adalah selama seribu tahun 
وَقِيْلَ الَّذِى يَسْعَى لِلأَنْبِياَءِ فىِ طَلَبِ الشَّفاَعَةِ العُلَماَءِ العاَمِلُوْنَ

Dalam sebuah riwayat lain dikatakan pula, bahwa orang-orang yang berbondong-bondong menemui para Nabi dalam meminta Syafaat adalah para Ulama yang beramal
وَهَذِهِ الشَّفاَعَةُ تَعُمُّ جَمِيْعَ الخَلْقِ مِنْ إِنْسٍ وَجِنٍّ وَمُؤْمِنٍ وَكاَفِرٍ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ وَمِنْ غَيْرِهاَ وَلِذَلِكَ تُسَمَّى الشَّفاَعَةُ العُظْمَى وَهِىَ أَوَّلُ المَقاَمِ المَحْمُوْدِ أَىْ الَّذِى يَحْمِدُهُ فِيْهِ الأَوَّلُوْنَ وَالآخِرُوْنَ وَآخِرُهُ إِسْتِقْراَرُ أَهْلِ الجَنَّةِ فىِ الجَنَّةِ وَأَهْلِ النَّارِ فىِ النَّارِ وَتَجْتَمِعُ الأَنْبِياَءُ حِيْنَئِذٍ تَحْتَ لِواَئِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Syafaat ( pertolongan ) ini mencakup semua makhluq manusia, jin, mukmin, kafir, dan lain sebagainya dari ummat ini, oleh karenanya di namakan “Syafa’atul Udzma” artinya pertolongan besar, yaitu permulaan “Maqom mahmud” artinya tempat yang terpuji, karena semua ummat dari semenjak Nabi Adam as hingga Ummat terakhir pada memuji Nabi Muhammad, akhirnya ahli sorga masuk ke sorga sedang ahli neraka masuk ke neraka dan semua para Nabi dan rosul berada di bawah bendera Nabi Muhammad Saw. 
وَهَذِهِ الشَّفاَعَةُ مُخْتَصَةٌ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَهُ شَفاَعاَتٌ أَخَرُ بَلْ وَلِغَيْرِهِ مِنَ الأَنْبِياَءِ وَالعُلَماَءِ وَالصَّالِحِيْنَ إِلاَّ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الَّذِى يَفْتَحُ لَهُمْ باَبَ الشَّفاَعَةِ ِلأَنَّهُمْ لاَيَتَجاَسِرُوْنَ عَلَى الشَّفاَعَةِ قَبْلَهُ لِعَظْمِ الجَلاَلِ يَوْمَئِذٍ

Syafa’atul Udzma adalah sebuah pertolongan atau Syafa’at yang di khususkan pada Nabi Muhammad Saw. Beliau memiliki banyak Syafaat lainnya, bahkan bagi selain beliau baik para nabi para ulama ataupun orang-orang soleh pada memiliki syafaat untuk menolong orang lain. Baginda Nabi adalah yang membuka atau Syafaat perdana bagi syafaat-syafaat lain, karena mereka tidak berani mengeluarkan syafaat sebelum Syafaat Nabi karena besarnya Syafaatul-udzma Nabi ini.
Allah mengetahui segalanya…
Daftar Pustaka : Kitab Tizan Ad-Daruriy - Syekh Nawawi Al-Bantaniy

Minggu, 30 Oktober 2011

Pengkhianatan Iblis Kepada Pengikutnya

Syetan adalah musuh manusia yang paling nyata. Meski begitu, ada banyak manusia yang terpengaruh dengan bujukan, bisikan dan rayuan syetan, sehingga terjerumus ke dalam perangkap yang sudah disediakan syetan diberbagai tempat.

 Perangkap syetan tidak saja ditujukan kepada manusia biasa, bahkan manusia berilmu agama setara dengan ulama pun menjadi sasarannya. bahkan terhadap mereka, godaannya semakin besar. Sedemikian rupa cara syetan menggoda, sehingga banyak manusia yang terperangkap dengan godaannya.

Ada kisah yang terjadi pada zaman dahulu, sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, yang terjadi pada bangsa Yahudi.
Di suatu negeri, seorang rabbi Yahudi tersohor, Barshisha, memiliki 60.000 murid yang bisa berjalan di udara berkat do'anya. Tapi ironisnya, Barshisha mati dalam keadaan kafir. Sedangkan, hampir semua orang, bahkan malaikat tahu, bahwa ia sangat tekun beribadah kepada Allah SWT.

Barshisha telah 70 tahun lamanya dengan tekun beribadah di dalam biara, hingga jin dan syetan pun telah lama berputus asa menggoda. Segala upaya telah dijalankan untuk menggelincirkan rabbi itu, tetapi semuanya sia-sia belaka.

Allah SWT berfirman kepada para malaikat yang keheranan itu, "Kenapa kalian heran dengan ibadahnya? Sesungguhnya Aku Maha tahu dalam ilmu-Ku, bahwa dia akan menjadi kafir dan masuk ke neraka (dalam keadaan) kekal di sana."

Iblis mendengar hal itu dan mengetahui bahwa kecelakaan rabbi itu berada diatas tangannya. Lalu iblis datang ke biara rabbi tersebut dengan menyamar sebagaimana dirinya, juga seorang rabbi, ditambah dengan penampilannya yang meyakinkan (dengan berpakaian dari bahan kain tenun kasar).

"Siapakah kamu? Apakah tujuanmu?" tanya Barshisha kepada tamunya yang baru datang.

"Aku adalah seorang ahli ibadah yang akan membantumu beribadah kepada Allah", ujar iblis.

"Barang siapa hendak beribadah kepada Allah, Allah akan mencukupinya dengan seorang teman."

Iblis masuk ke dalam biara itu dan mengikuti ibadah yang dilakukan Barshisha selama tiga hari dalam keadaan tidak tidur, tidak makan dan tidak minum.

Setelah mengamati cara ibadah temannya itu, Barshisha heran, "Aku berpuasa, aku tidur, aku makan dan aku minum, sedangkan engkau tidak makan dan tidak minum. Sesunggunya aku telah beribadah selama 70 tahun, tetapi aku belum mampu meninggalkan makan dan minum. Lalu, bagaimana caranya agar aku menjadi orang yang sepertimu?"

Iblis menjelaskan, "Pergilah kamu, lalu kamu berbuat maksiat kepada Allah. Setelah itu, kamu bertaubat kepada-Nya, karena sesungguhnya Dia Maha Penyayang, sehingga kamu akan menemukan manisnya taat."

Mendengar saran temannya itu, Barshisha bertambah heran, "Bagaimana aku bisa berbuat maksiat kepada-Nya, setelah aku beribadah kepada-Nya bertahun-tahun?"

"Seorang manusia, jika telah berbuat dosa memerlukan maaf dan ampunan."

"Dosa apakah yang kamu tunjukkan kepadaku?"

"Zina."

"Aku tidak akan melakukannya."

Iblis memberikan alternatif lainnya, "Bunuhlah seorang mukmin."

"Aku tidak akan melakukannya."

Iblis memberikan pilihan lainnya, "Minumlah minuman keras (arak), karena itu lebih ringan dan kamu hanya dimusuhi oleh Allah."

"Dimana aku bisa mendapatkannya?"

"Pergilah ke daerah anu." Iblis memberikan petunjuk suatu tempat untuk bermabuk-mabukan yang "aman" bagi si rabbi Yahudi tadi.
Barshisha setuju dan mengikuti saran iblis.

Pada suatu saat, Iblis berhasil menggoda rabbi Yahudi tersebut dengan sebuah perangkap yang menjebak dirinya pada perbuatan maksiat. Iblis itu sebelumnya telah mencekik seorang gadis jelita sehingga kesurupan. Sebaliknya, Iblis memberikan pelajaran kepada Barshisha bagaimana cara menyembuhkan seseorang dari kesurupan.

Gadis itu oleh keluarganya, atas petunjuk Iblis, dibawa ke tempat Barshisha untuk diobati. Karena parah, gadis tersebut ditinggal sebentara di biara. Dalam keadaan sepi, Barshisha yang sedang mabuk khamr, tergoda dengan kemolekan gadis itu, ditambah dengan bisikan Iblis, maka terbujuklah dirinya untuk menzinahi gadis tersebut.

Beberapa bulan kemudian, gadis itu hamil. Tentu saja, Barshisha merasa takut, sekaligus malu kalau perbuatannya diketahui orang, khususnya keluarga gadis tersebut. Sekali lagi, terbujuk oleh godaan Iblis, Barshisha membunuh gadis itu dan menguburkannya di suatu tempat.

Keluarga gadis yang menengok kerabatnya merasa kecewa, ternyata saudaranya telah meninggal. Dalam situasi kritis ini, kembali iblis tampil dengan memberikan petunjuk kepada keluarga gadis itu lewat mimpi, bahwa sebetulnya kerabatnya itu tidak mati karena sakit, melainkan dibunuh oleh Bashisha dan dikubur di suatu tempat.

Segera keluarga gadis tersebut menggali kubur saudarinya dan menyaksikan ada luka senjata tajam pada tubuhnya.

Barshisha tidak bisa mengelak lagi, dan kemudian dihukum oleh penguasa pada waktu itu. Hukumannya adalah delapan puluh kali deraan utnuk perbuatan minum khamr, seratus kali deraan untuk perbuatan zina, dan disalib karena perbuatan pembunuhan.

Pada saat Barshisha disalib tapi belum menemui ajal, datanglah iblis kepadanya dalam rupa semula sambil berkata, "Bagaimana kamu melihat keadaanmu sendiri?"

Barshisha menyesal, "Barang siapa yang taat kepada teman yang jelek, beginilah keadaannya."

Syetan: "Andai kamu menghendaki, aku bisa menurunkanmu."

Barshisha: "Aku menghendakinya dan akan memberikan apa-apa yang kamu kehendaki."

Syetan: "Bersujudlah kamu kepadaku dengan sekali sujud saja."

Barshisha: "Bagaimana aku bersujud di atas tiang (kayu)?"

Syetan: "Dengan isyarat saja."

Lalu Barshisha bersujud kepada iblis dengan menundukkan kepalanya, maka kufurlah dia.

Sesudah Barshisha kufur, Iblis berkata, "Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam."

Maka, begitulah nasib si rabbi, yang tadinya alim itu akhirnya mati dalam keadaan kufur karena godaan Iblis.


Catatan:

Cerita ini diriwayatkan oleh Abu Ishaq Ahmad bin Muhammad as-Sa'labi dengan sanad yang marfu dari Ibnu Abbas. Juga oleh Abdurrazak dan Ibnu Rahawaih, dan Imam Ahmad di dalam kitab "Az-Zuhud", oleh Abd bin Hunaid dan al-Bukhari, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, al-Hakim dan Abu Mardawaih. Semua riwayat ini lewat Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Riwayat dari Ibnu Abi Dun-ya dan dari Ibnu Mardawaih dari hadits Ubaid bin Abi Rifa'ah lewat sayyidina Ali bin Abi Thalib agak berbeda, tetapi maksudnya sama. Juga hampir sama riwayat dari Wahb bin Munabbih yang disampaikan oleh Ibnul Jauzi al-Baghdadi.

Kisah seperti ini, yakni penghianatan Iblis terhadap pengikutnya, terabadikan dalam surat al-Hasyr ayat 16 sebagai berikut: "(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syetan ketika dia berkata kepada manusia:, "Kafirlah kamu", maka, tatkala manusia telah kafir, ia berkata, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam." - QS.al-Hasyr (59): 16.

--- ooo ---

Senin, 13 Juni 2011

Amr Ibn Luhayy

Pembuatan berhala pada awalnya bertujuan untuk mengenang tokoh. Lalu berlanjut menjadi pemujaan dan penyembahan. Di kisahkan, Amr ibn Luhayy menaklukan Makkah, mengusir Jurhum meninggalkan kota, dan mengambil alih mandat pengelolaan Ka'bah.

Ia, atau Rabi'ah ibn Amr Ash-Shabbah Haritsah ibn Tsa'labah ibn Amru' al-Qays ibn Mazin ibn al-Azd, adalah bapak suku Khuza'ah. Ia seorang kahin atau pendeta. Ibunya adalah Fihayrah, putri al-Harits, tetapi sumber lain menyatakan ia adalah putri al-Harits ibn Murad al-Jurhumi.

Amr mengikuti peramalnya yang bernama Abu Tsumamah untuk menemukan berhala-berhala zaman dahulu di pantai Juddah. Kemudian Amr menggali berhala-berhala keluar dari pasir, membawanya ke Tihamah, dan menegakkannya di sana. Saat masa haji tiba, ia mengundang semua bangsa Arab untuk menyembah berhala-berhala tersebut.

Awf ibn Udzrah ibn Zayd al-Lat ibn Rufaydah ibn Tsawr ibn Kalb ibn Wabarah ibn Taghlih ibn Hulwan ibn Imran ibn al-Haf ibn Qudha'ah menyambut panggilannya. Karenanya, Amr memberinya Wadd, yang dibawa Awf ke Wadi al-Qurra, dan ia menegakkannya di Daumatul Jandal, Al-Jawf, di Saudi Utara sekarang.

Keberhalaan Wadd menyebar ke selatan, yaitu Yaman. Ma'in sebuah kerajaan kuno di Arab Selatan, menjadikan Wadd ("cinta") sebagai Tuhan Nasional-nya. Sedang di tempat asalnya di Daumatul Jandal, Wadd adalah "dewa bulan".

Kerajaan Ma'in berjaya selama abad ke-4 sampai ke-2 SM di utara Yaman sekarang. Bangsa Ma'in adalah komunitas pedagang yang damai dan pemerintahnya menunjukkan pola-pola demokratis negara kota.
Ma'in jatuh dalam kekuasaan bangsa Saba' , yang terkenal dengan ratunya Bilqis.

Wadd adalah nama lain dari Ilumquh. Ada kebiasaan mengunjungi Ilumquh (haji) dengan ritus menyucikan diri (wudhu), qurban, dan kepatuhan atas pandangan tertentu. Mereka mencari bimbingan keramat dari tuhan ini, yang kemudian dituliskan dan disimpan di kuilnya untuk alasan keamanan.

Awf juga menamai anaknya "Abd Wadd", ia adalah yang pertama bernama demikian. Kemudian bangsa Arab menamai anak-anak mereka "Wadd". Awf menjadikan anaknya Amir, yang di panggil "Amir al-Ajdar", pemegang mandat pengelolaan Ka'bah. Keturunannya terus memegang posisi itu hingga datang-nya Islam.

Setelah berhala Wadd, al-Qur'an menyebutkan berhala Suwa'. Tidak jelas gambaran tentang Suwa', namun diketahui bahwa suku Hudzail mengadopsi Suwa' menjadi tuhannya dan menempatkannya di Ruhat di daerah Yanbu, salah satu desa di Madinah. Pemegang mandat pengelolaan kuilnya adalah Bani Lihyan. Hanya anehnya, berhala ini tidak pernah disebut dalam puisi-puisi suku Hudzail, tetapi justru pernah muncul dari puisi salah satu penyair Yaman.

Kau lihat
mereka berkerumun di sekitar rajanya
sebagaimana suku Hudzail
mengelilingi Suwa'nya
dan mengisi istananya dengan qurban
yang diambil dari gembalaan terpilih

Suku Madzhij juga menyambut panggilan Amr ibn Luhayy. Karenanya, ia memberikan berhala Yaghuts kepada An'am ibn Amr al-Muradi, kepala suku, untuk menjaganya. Yaghuts ditempatkan di sebuah bukit di Yaman yang bernama Madzhij, ia disembah oleh suku Madzhij dan suku-suku di sekitarnya.

Seorang penyair, An-Nabighah Adz-Dzubyani, penyembah Yaghuts, bersyair:
Semoga Wadd memelihara
dan memberkatimu
sebab bagi kami
dilarang bersama wanita
beroman dan bermesra
Demikian keimanan kami
telah menegaskan

Suku Madhzij menganggap berhala Wadd sebagai feminim. Penyair lain bersyair:
Yaghuts membimbing kami
menuju Murad
Dan kami taklukan mereka
sebelum pagi

Suku Hamadan juga menyambut panggilan Amr, dan ia berikan berhala Ya'uq kepada Malik ibn Martsad ibn Jusyam ibn Rasyid ibn Jusyam ibn Khayran ibn Nawf ibn Hamdin, kepala suku. Ia ditempatkan di suatu pemukiman yang bernama Khaywan, berjarak dua malam berjalan kaki menuju Makkah. Ia disembah oleh suku Khaywin (Hamdan) dan suku-suku Yaman sekitarnya.

Berhala ini tidak menjadi nama kebanggaan suku penyembahnya, jadi tidak ada anak Hamdan atau suku Arab lainnya yang diberi nama Abdul Ya'uq. Nama Ya'uq juga tidak disebut-sebut dalam puisi mereka. Ini mungkin karena tempat mereka berdekatan dengan Shan'a, ibu kota Yaman. Akibatnya mereka berbaur dengan suku Himyar dan memeluk agama Yahudi. Saat itu Dzu Nawas Yusuf As'ar Yats'ar, raja Himyar Yaman, pada 523 M, membantai kaum-kaum Nashrani di Najran, perbatasan utara Yaman. Kaum Nashrani itu beranggapan, Isa Alaihissalam adalah Tuhan, meski mengambil wujud manusia.

Pembantaian ini membuat Negus di Ethiopia menyerbu Yaman. Ia mengalahkan dan membunuh Dzu-Nawas dan menunjuk seorang Nasrani sejak lahir, Abrahah, mantan jendral Ethiopia, menjadi gubernur Yaman. Abrahah termasyhur dalam sejarah Islam sebagai penyerang Ka'bah, yang kemudian ia dan pasukannya dihancurkan sepasukan burung [QS. al-Fiil (105): 1-5].

Suku Himyar juga menyambut panggilan Amr. Maka ia mengirimkan berhala Nasr kepada seorang lelaki dari Dzu-Ru'ayn bernama Ma'di-karib. Ma'di-karib mendirikannya di sebuah tempat di negeri Saba' bernama Balkha'. Berhala ini di sembah suku Himyar dan suku-suku sekitarnya. Mereka terus menyembahnya sampai Dzu-Nawas dari bangsa Tubba' menjadikan mereka Yahudi.

Semua berhala ini terus disembah sampai Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, yang memerintahkan agar berhala tersebut dihancurkan.

Hisyam ibn al-Kalbi (w. 406 H/661 M), dalam kitabnya Kitab al-Ashnam (Kitab Berhala), setelah rangkaian sejumlah rawi, menyebutkan, adalah Amr ibn Luhayy yang pertama menganjurkan Bahiirah, Saa'ibah, Washiilah, Haam, mengubah agama Ismail, dan mengundang bangsa Arab untuk menyembah berhala-berhala itu.

Inilah yang disebutkan di dalam al-Qur'an, "Allah sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya Bahiirah, Saa'ibah, Washiilah, dan Haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti." [QS. al-Maidah (5): 103].

Bahiirah, adalah unta yang telah beranak lima kali dan anak yang kelima itu jantan, lalu unta betina itu dibelah telinganya, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan tidak boleh diambil air susunya.
Saiibah, adalah unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja lantaran sesuatu nadzar. Seperti, jika seorang Arab Jahiliyah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, ia biasa bernadzar akan menjadikan untanya Saiibah bila maksud atau perjalanannya berhasil dan selamat.
Washiilah, adalah seekor domba betina yang melahirkan anak kembar jantan dan betina. Yang jantan di sebut Washiilah, tidak disembelih dan diserahkan kepada berhala.
Haam, adalah unta jantan yang tidak boleh diganggu gugat lagi, karena telah dapat membuntingkan unta betina sepuluh kali.

Perlakuan terhadap Bahiirah, Saiibah, Washiilah, dan Haam ini adalah kepercayaan Arab Jahiliyyah.


---ooo---