Tampilkan postingan dengan label Umat Muhammad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umat Muhammad. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2011

Keberadaan Kubur Nabi

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memuliakan dan mengutamakan umat Muhammad, dari pada umat selainnya. Hal ini dikarenakan, umatnya mengetahui keberadaan kubur Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Baik secara yakin (sudah menyaksikan sendiri) atau pun dengan kabar berantai. Tidak ada keraguan dan kebimbangan dalam hal ini bagi manusia untuk menolaknya. Demikian pula ketika berada dalam perjalanan ibadah haji, sehingga kita dapat menyaksikan kuburnya yang mulia.

Tentang hal tersebut, terdapat sebuah sya'ir dari Ibn Hajar:

"Tidak diketahui kubur mereka di bumi, secara yakin selain yang di tempati Rasul"

Al-Imam Malik Rahimahullah, pernah berkata kepada al-Mahdi:
"Hai 'Amirul Mu'minin, sesungguhnya anda sekarang memasuki kota Madinah. Maka tengoklah ke sisi kanan dan kiri Anda. Mereka adalah putra-putra orang Muhajirin. Berikanlah salam kepada Mereka, karena sesungguhnya tidak ada kaum yang berada di atas bumi ini yang lebih baik dari pada penduduk Madinah. Dan tidak ada tempat yang terbaik selain kota Madinah."

Lalu ditanyakan kepada beliau:
"Dari mana Anda bisa berkata seperti itu, wahai Abi 'Abdillah?" Dijawab: "Karena tidak ada kubur Nabi yang diketahui sampai saat sekarang ini di atas bumi, selain dari kubur Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Jika terdapat kubur Nabi Muhammad diantara mereka (ahli Madinah), maka hendaknya perhatikanlah keutamaan mereka atas yang lainnya [pernyataan ini seperti apa yang terdapat dalam kitab Al Mustadrak]."

Kubur yang mulia adalah tempat turunnya rahmat Ilahiyah. Ini sesuai dengan apa yang terdapat dalam hadits dari Ka'ab Radiyallau 'Anhu:

"Tidak ada pagi yang terbit, kecuali turun bersamanya tujuh puluh ribu malaikat, sampai mereka berkeliling di kubur [Nabi]. Mereka mengepakkan sayap-sayap mereka, dan mereka pun bershalawat kepada Nabi. Dan ketika sore, mereka kembali. Lalu di ganti dengan tujuh puluh ribu malaiakat yang lain, sampai mereka mengelilingi kubur sambil menngepakkan sayap mereka. lalu mereka pun bershalawat kepada Nabi; tujuh puluh ribu ketika malam dan tujuh puluh ribu ketika siang." [HR. al-Hafidhz Isma'il al-Qadhi dalam Juz'i ash-Shalah 'ala an-Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam].


---ooo---

Jumat, 08 Oktober 2010

Penjagaan Iman Umat Muhammad

Terjaganya iman umat Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Salam, adalah sebuah bagian yang terbesar dan teragung. Hal ini dikarenakan, kita diperintahkan untuk beriman kepada semua kitab yang diturunkan oleh Allah SWT. Juga kita diperintahkan untuk beriman kepada seluruh Rasul yang telah diutus oleh Allah SWT, tanpa membedakan antara satu dengan lainnya.

Hal ini dibenarkan dengan firman Allah SWT, sebagai berikut:

سُوۡرَةُ البَقَرَة
ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ‌ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰٓٮِٕكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٍ۬ مِّن رُّسُلِهِۦ‌ۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَا‌ۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ (٢٨٥)


285. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." [QS. Al-Baqarah, 285].

Kitapun telah diperintahkan untuk berikrar, akan kebenaran keimanan dan keyakinan yang baik secara ucapan, serta meyakini akan firman-Nya.

سُوۡرَةُ البَقَرَة
قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبۡرَٲهِـۧمَ وَإِسۡمَـٰعِيلَ وَإِسۡحَـٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَآ أُوتِىَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِىَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٍ۬ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُ ۥ مُسۡلِمُونَ (١٣٦)


136. Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya" [QS. Al-Baqarah, 136].

Yakni, anugerah keimanan terbesar yang diberikan Allah kepada kita, dimana mereka beriman kepada sebagian dan tidak (dituntut) kepada sebagian yang lain.

Dari makna ini dapat kita simpulkan, bahwasannya harga seorang muslim dalam sebuah timbangan adalah lebih tinggi dari pada umat yang lain. Hal ini disebabkan, bahwa keutamaan umat Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terletak pada keimanan mereka.

Dalam hal tersebut, maka seorang muslim laki-laki boleh menikahi perempuan ahli kitab. Sedangkan bagi seorang wanita muslimah tidak diperkenankan untuk menikahi pria yang bukan muslim. Hal ini disebabkan, bahwa iman wanita muslimah tersebut lebih utama dibandingkan iman suaminya yang bukan muslim. Karena iman suaminya lebih rendah ketimbang iman dari istrinya yang muslimah.

Hal ini memiliki makna lain dalam permasalahan tersebut, yaitu: Jika seorang muslim yang menikahi seorang wanita yang bukan muslimah, baik wanita itu nashrani maupun yahudi, dimana ketika sang istri menyebut Nabinya, maka sang suami akan bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi (yang istrinya sebutkan) , dengan penuh penghormatan serta keagungan dan kemliaan. Berbeda dengan seorang wanita muslimah yang menikahi pria yahudi maupun nashrani, jika sang istri menyebut nama Nabinya, yaitu Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, maka sang suami tidak akan menyukainya atau bahkan bisa mencaci maki sang istri. Atau paling tidak, sang suami yang bukan muslim itu tidak akan meridhai dan tidak pernah menerima apa yang dikatakan oleh istrinya yang muslimah.